Entah kapan, mungkin setelah Tsunami Jepang, Pamanku keluar dari kandangnya untuk mencari makan. Habis makan satu bungkus Indomie di warung dekat kampus *dkt banget*, Pamanku balik ke kandangnya lagi dengan perut yang sudah terisi dua porsi mie instant (penjualnya dikibulin).
Udah, ceritanya tamat.
Ok, lanjut cerita kedua....
Sebenarnya, inti ceritanya adalah pada saat Pamanku dalam perjalanan pulang dari kuliahan. Dia kok ngerasa ada yang ngikutin gitu. Apalagi waktu itu udah jam 10 malam lewat satu detik. Matahari sedang terik-teriknya lagi. Nach, Pas lewat jalan sepi, bayangan yang ngikutin itu muncul dan nampak dari belakang karena kesorot lampu jalanan yang kebetulan waktu itu lagi padam. Karena penasaran, Pamanku menoleh ke belakang secara perlahan-lahan tapi matanya tetap fokus ke depan. "Gila...!!!!", kata Pamanku. Cuman kata itu yang keluar dari mulut Pamanku untuk menggambarkan makhluk yang penuh bulu dan bergigi tajam itu. Hidungnya yang mirip kucing semakin membuat Pamanku ketakutan yang terkontrol. Tiba-tiba makhluk itu bersuara, "meong-meong".
Pamanku sebenarnya gak tegaan liat anak kucing itu. Sambil ngeong-ngeong lagi. Matanya berkaca-kaca seperti habis nonton film Kuch Kuch Hota Hai. Akhirnya, Pamanku membulatkan tekadnya. Apalagi mengingat dengan keadaan perutnya yang kenyang, mungkin keputusan yang diambil adalah hasil dari pemikiran yang sehat. Demi kemashlahatan umat, akhirnya Pamanku memutuskan untuk mempercepat langkahnya biar si kucing gak bisa ngejar.
Ditulis oleh
Pamanku
Rabu, 16 Maret 2011
23:03 WIB
"Tanpa Sastra, Kita bisa Menulis"