Senin, 19 Maret 2012

Sang Pencemar

Ada peristiwa menarik yang terjadi ketika Pamanku sedang kuliah yang berlangsung tadi pagi. Mungkin hal ini juga pernah terjadi oleh teman-teman karena Pamanku pun sering mendapati kejadian ini sejak dari SD sampai sekarang. Namun seiring dengan bertambah dewasanya Pamanku, sehingga yang membedakannya cuman bagaimana menyikapi hal ini...

Kalian tahu apakah itu?

Kejadian itu adalah adanya bau tak sedap selama kuliah berlangsung karena seseorang teman dari teman-teman Pamanku (mungkin Pamanku sendiri) yang telah mendaratkan sepatunya ke landasan jalan setapak yang di mana sebelumnya seekor kucing atau entah makhluk apa yang sebelumnya sudah mendaratkan kotorannya di landasan tersebut dan masuk ke ruang kuliah tanpa menyadari akan hal itu dan malu untuk keluar membersihkan alas kakinya karena nanti bakalan ketahuan kalo dialah sang pelaku pembusukan ruang kelas.
*Krik Krik....

Singkatnya:
Seseorang dari kami nginjak kotoran dan tak sadar telah mencemari udara seisi kelas.

Jadi ingat waktu SD, ketika itu Pamankulah Sang Pencemar udara ruang kelas. Setelah menyadari sepatu Pamanku dengan anggunnya menginjakkan kotoran kucing dan kebawa masuk ke dalam ruang kelas, Pamanku yang masih lugu, lucu, suci tanpa dosa, gak tahu harus berbuat apa. Pamanku hanya diam dan menikmati setiap bau busuk yang masuk ke dalam hidungnya. Namun, seorang teman Pamanku yang tidak dapat menolerir bau itu, segera melakukan investigasi. Argh..., sial..!!! Investigasi pun berhasil dan mengeluarkan hasil bahwa Pamankulah sumber bau tersebut.

Hasil investigasi tersebut dipublikasikan tanpa rasa perikemanusiaan. Pamanku langsung jatuh malu, ditambah lagi cewek manis yang Pamanku taksir ikut-ikutan menutup hidung. Sejak saat itulah Pamanku berjanji, hal ini tidak akan terulang kembali dan jika seandainya ada teman yang memiliki nasib yang sama  dengan Pamanku, Pamanku tidak akan mempermalukan Sang Pencemar di depan khalayak kelas.

Terbukti, kejadian ini terulang lagi namun bukan Pamanku yang menjadi Sang Pencemar tapi orang lain. Kejadian terulang waktu SMP, SMA, bahkan pada saat masa-masa kuliah pun. Kejadian ini tidak pandang bulu. Kalian anak SD, masih ABG, atau kalian sudah menjadi the agent of change pun hal ini bisa terjadi terhadap kalian. Berhati-hatilah....

Nach, kembali ke cerita awal.
Bau busuk pun mulai menyebar semerbak parfum Aigner yang diproduksi sejak 1667. Sebagian teman sudah mulai gelisah dan mencoba untuk melakukan investigasi kecil-kecilan. Dimulai dari sepatunya sendiri sampai sepatu Pamanku tak bisa lepas dari investigasi detektif Kogoro Mouri. Namun, hasilnya nihil lantaran gerak-geriknya terbatas karena dosen di depan sedang menjalankan tugasnya yaitu mengajar. Dia pun gelisah dengan bau tersebut.

Tak tahan dengan tingkah teman yang satu itu, balik sana, balik sini, lirik sana, lirik sini, investigasi sana, investigasi sini, sehingga mengganggu sudut pandang Pamanku untuk fokus ke depan kelas. Pamanku pun mencoba menasehati agar supaya menikmati setiap bau yang masuk ke dalam rongga-rongga hidung. Teman Pamanku hanya tersenyum dan kembali fokus pada omongan dosen favorit kampus Pamanku itu.

Alhasil, bau tak sedap itu hilang tanpa jejak. Menurut hasil pengamatan sementara, bau tersebut tidak hilang, namun hidung Pamanku dan teman-teman lain yang sudah terbiasa mencium bau itu. Hasil itu diperkuat dengan tidak adanya salah satu dari Teman Pamanku yang sebelumnya izin keluar untuk membersihkan sepatunya....

Dalam benak Pamanku mencoba menyimpulkan, mungkin beginilah kehidupan yang terjadi di lingkungan kita sehari-hari. Sebuah kejahatan atau hal-hal yang buruk jika kita membiasakan akan hal itu atau sesuatu yang buruk namun sudah terbiasa bagi masyarakat suatu daerah tertentu, akan tidak merasa hal itu buruk lagi jika kita sering merasakan keburukan itu dan mencoba terus dan terus mentolerirnya. Dan suatu ketika kebenaran datang di tengah-tengah masyarakat itu, masyarakat pun menganggap hali itu adalah "bau busuk" yang harus disingkirkan jauh-jauh agar tidak merusak tatanan kehidupan masyarakat di sana.

Bisa saja hal-hal yang buruk yang biasa kita rasakan, nilai keburukannya akan hilang di tengah-tengah masyarakat dan berubah menjadi hal yang wajar. Bukankah itu sudah terjadi sekarang di tengah-tengah kehidupan kita? Dan ketika kebenaran atau hal-hal yang baik mencoba menyapa masyarakat itu demi kebaikan masyarakt itu sendiri tiba-tiba tertolak akibat adanya konsep-konsep sebelumnya, yaitu hal-hal buruk tersebut yang membentuk pola pikir masyarakat itu.

Disinilah Pamanku menyarankan agar kita butuh kedewasaan dalam menyikapi hal ini. Salah satunya adalah open-minded...

Ditulis oleh
Pamanku
Senin, 19 Maret 2011
20:38 WIB
"Tanpa Sastra, Kita bisa Menulis"

Kamis, 15 Maret 2012

Berpikirlah, maka Anda akan stress sendiri...!!!!!

Kali ini Pamanku pengen serius. Ingin menceritakan tentang kisah hidup yang tragis dan tak kan ada habisnya. Pamanku waktu itu masih kecil, istrinya pun masih kecil, kedua anaknya juga masih kecil. Mereka hidup berbahagia. Punya mobil, punya utang, punya laptop, punya AC, punya baju, punya dosa, punya kutil, dan lain-lain. Intinya mereka hidup berbahagia di dalam sebuah gua di bukit Tursina, Amerika Serikat.

Semenjak mengenal iPhone, hidup mereka berubah. Perubahnnya pun sangat drastis; dulunya sehari-hari tanpa iPhone, sekarang sehari-hari dengan iPhone. Pamanku akhirnya berpikir, mengapa hidup ini begitu rumit. BBM naik, Tomat naik, Beras naik, Nike naik, semua naik. Argh..., Sudahlah, mungkin ini kehendak Tuhan, tandasnya. 

Untunglah Pamanku masih punya nenek yang ia cintai. Neneknya sebelum meninggal berpesan bahwa tolong perkataan nenek ini selalu diingat agar supaya hidup itu selalu menjadi bahagia meskipun dijejali masalah demi masalah. Kata-kata itu sering diingat oleh Pamanku sampai sekarang. Makanya banyak orang terkagum-kagum melihat kehidupan pesimis Pamanku ini.

Sampai suatu ketika, Pamanku memberanikan diri untuk menikahi istrinya. Setahun setelah menikah, mereka berdua hidup berdua dengan dua anak yang sekarang sudah berada di bangku kuliah di Universitas terkemuka ibu kota. Mereka masih sering mengunjungi neneknya di kampung halaman meskipun mereka sudah melupakan wajah nenek Pamanku sendiri. Benar-benar keluarga yang harmonis.

Ini adalah kisah nyata. Semoga kisah ini dapat memberikan inspirasi bagi kita semua untuk tetap berpikir jernih dalam menghadapi sebuah masalah yang telah memiliki jalan keluar....


Ditulis oleh
Pamanku
Kamis, 15 Maret 2011
21:40 WIB
"Tanpa Sastra, Kita bisa Menulis"