Kali ini Pamanku pengen serius. Ingin menceritakan tentang kisah hidup yang tragis dan tak kan ada habisnya. Pamanku waktu itu masih kecil, istrinya pun masih kecil, kedua anaknya juga masih kecil. Mereka hidup berbahagia. Punya mobil, punya utang, punya laptop, punya AC, punya baju, punya dosa, punya kutil, dan lain-lain. Intinya mereka hidup berbahagia di dalam sebuah gua di bukit Tursina, Amerika Serikat.
Semenjak mengenal iPhone, hidup mereka berubah. Perubahnnya pun sangat drastis; dulunya sehari-hari tanpa iPhone, sekarang sehari-hari dengan iPhone. Pamanku akhirnya berpikir, mengapa hidup ini begitu rumit. BBM naik, Tomat naik, Beras naik, Nike naik, semua naik. Argh..., Sudahlah, mungkin ini kehendak Tuhan, tandasnya.
Untunglah Pamanku masih punya nenek yang ia cintai. Neneknya sebelum meninggal berpesan bahwa tolong perkataan nenek ini selalu diingat agar supaya hidup itu selalu menjadi bahagia meskipun dijejali masalah demi masalah. Kata-kata itu sering diingat oleh Pamanku sampai sekarang. Makanya banyak orang terkagum-kagum melihat kehidupan pesimis Pamanku ini.
Sampai suatu ketika, Pamanku memberanikan diri untuk menikahi istrinya. Setahun setelah menikah, mereka berdua hidup berdua dengan dua anak yang sekarang sudah berada di bangku kuliah di Universitas terkemuka ibu kota. Mereka masih sering mengunjungi neneknya di kampung halaman meskipun mereka sudah melupakan wajah nenek Pamanku sendiri. Benar-benar keluarga yang harmonis.
Ini adalah kisah nyata. Semoga kisah ini dapat memberikan inspirasi bagi kita semua untuk tetap berpikir jernih dalam menghadapi sebuah masalah yang telah memiliki jalan keluar....
Ditulis oleh
Pamanku
Kamis, 15 Maret 2011
21:40 WIB
"Tanpa Sastra, Kita bisa Menulis"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar